News

  • Follow Us

BELAJAR DI RUMAH ? PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN BAGI ANAK

Date: July 22, 2020 Author: Tri Ayu Sianipar Categories: News

Dalam rangka menjalin komunikasi antara orangtua, peserta didik, dan guru pada masa yang sangat tidak menentu, seperti sekarang ini karena adanya virus Covid-19, maka perlunya dibangun suatu komunikasi yang membuat suasana nyaman antara ketiganya agar dapat terjalinnya kerjasama yang kooperatif. Sehingga kegiatan proses belajar mengajar dengan system online, diharapkan dapat memberikan mutu proses dan hasil yang maksimal diantara ketiganya, dan tidak kalah mutunya dari system klasikal yang biasanya.

Anak-anak usia dini yang awalnya saling bermain, saling memotivasi dengan teman-temannya, dalam suasana belajar yang kondusif dan sukacita kini harus belajar di rumah bersama orangtuanya dengan materi dan tugas yang diberikan oleh pihak sekolah secara online, didampingi orangtua di rumah.

Walaupun proses pendidikan di era gadget hampir semua lapisan usia sudah paham dan mengerti, namun tanggung jawab pendidikan lebih banyak ada pada orangtua sebagai guru, motivator sekaligus sebagai vasilitator untuk setiap kebutuhan belajar anak, baik itu makan, minum, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Sedangkan guru selalu memonitor setiap perkembangan dan kegaiatan peserta didik memalui orangtua dengan cara menelepon dan/atau video call. Selain itu guru selalu aktif memberikan materi dan tugas melalui Google Classroom kepada peserta didik yang dibantu oleh orangtua sehingga peserta didik tidak jenuh di rumah dan selalu disibukkan dengan kegiatan yang sangat positif.

Begitu juga ketika orangtua membantu anak mengerjakan tugas dari guru, disini orangtua akan terlibat secara langsung dengan proses belajarnya anak, membantu anak memecahkan masalah didalam kesulitannya. Karena guru meminta bentuk foto atau video peserta didik ketika melakukan kegiatan belajar mengajar maka orangtua pasti akan dengan sigap melakukannya dengan mengirimkan hasil belajar anak dalam bentuk foto atau video yang telah diabadikan oleh orangtua.

Dalam suasana belajar yang seperti itu, proses pembalajaran sangat merdeka karena anak dengan leluasa menentukan jam belajar, metode belajar dan sumber belajar. Guru juga lebih kreatif dan lebih fokus memperhatikan setiap perkembangan peserta didik, dan peserta didik akan lebih mandiri mengerjakan tugas yang diberikan guru, orangtua menjadi semakin sibuk dalam memperhatikan keseriusan anak dalam belajar.

Tugas Orangtua Semakin Bertambah

Biasanya pagi hari, orangtua membangunkan anak untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah, menyiapkan keperlua anak ke sekolah, membuatkan sarapan dan bekal dan mengantar anak ke sekolah. Kini tugas orangtua mau tidak mau harus bertambah untuk menjadi guru di rumah bagi anak.

Gambar 1 : Eloise – TK B1 (Materi Home Learning : Gunung Merapi)

 

Saat ini orangtua mengemban tugas ganda yaitu sebagai guru dan fasilitator tetapi juga harus menjadi motivator bagi anak selama proses Home Learning berlangsung, karena peserta didik tidak belajar klasikal di sekolah bukan berarti mereka libur dan 24 jam bermain tanpa ada arahan tetapi peserta didik harus lebih semangat belajar karena dibimbing langsung oleh orangtuanya.

Disisin lain orangtua juga dituntut untuk menjadi lebih kreatif yang bertujuan untuk membuat anak belajar dengan nyaman, tekun dalam belajar, senang, dan tidak merasa bosan berada di dalam rumah dengan waktu yang tidak bisa ditentukan sampai kapan untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

 

Bakat, Minat dan Hobi Tetap Dikembangkan

Kerjasama antara orangtua dan anak tidak boleh berkurang, harus semakin erat untuk membina kolaborasi apalagi kita tahu sebagaian karyawan juga ada yang melakukan Work from Home (WFH) jadi beberapa orangtua ada yang lengkap juga berada di rumah untuk melakukan hobi anak dan melatih bakat dan minatnya. Seperti anak laki-laki yang memiliki hobi bermain bola, maka sang ayah dapat bersama-sama bermain bola di halaman rumah sekaligus juga melatih anak untuk menjaga kebugaran tubuhnya supaya terhidar dari virus yang sedang mewabah di Indonesia saat ini, dan ibu juga dapat mengajari dan melatih bakat dan minat anak perempuan untuk membuat kerajinan tangan.

Meskipun tidak ada komptesi tetapi bakat, minat dan hobi anak tetap harus dilatih dan dikembangkan agar setiap harinya selalu ada hal-hal baru yang anak terima, sehingga ketika anak masuk sekolah anak dapat menceritakan bahwa tidak kalah serunya belajar di rumah bersama orangtua mereka. Seperti foto di bawah ini, Darren Nathanael peserta didik dari TKK PENABUR Agus Salim – TK B, melakukan percobaan sains “Gunung Merapi” dengan sang ibu :

 

 

Gambar 2-7 : Darren Nathan – TK B2 (Materi Home Learning : Gunung Merapi)

 

Kolaborasi yang sangat menyenangkan, anak sangat senang melakukan hal baru dan menantang apalagi kalau mereka belum tahu, ini dapat membuat anak merasa “Surga Pendidikan Ada di Rumahku”. Jadi, oangtua harus memfasilitasi program pengembangan anak meskipun terbatas karena adanya Social Distancing dan Stay at home.

Saat anak tidak melakukan atau tidak terlibat dalam proses kegiatan belajar yang telah diberikan oleh guru dari pihak sekolah, tentu hal itu kurang baik, karena tujuan guru memberikan tugas itu bukan untuk memberikan kesibukan kepada orangtua dan membebankan tugas-tugas kepada orangtua tetapi memberikan kesempatan kepada anak agar anak menjadi lebih kreatif untuk membuat sesuatu dan terlibat dalam setiap proses pembuatannya.

Diharapkan dengan berkolaborasi antara guru, anak dan orangtua dalam proses pembelajaran online home learning, kualitas proses belajar dan hasil belajar tetap tinggi, dan itu semua dapat menambah motivasi anak dan orangtua untuk tetap kompak dalam memberikan kegiatan yang positif dan tidak membosankan. Mudah-mudahan wabah Covid-19 segera hilang sehingga peserta didik dan guru dapat melakukan pembelajaran klasikal sebagai mana mestinya, serta peserta didik dapat melepas rindu dengan teman-temannya.

Semoga Indonesia dapat segera terbebas dari wabah Covid-19, agar setiap peserta didik yang tidak tertahan dan tidak terbatas lagi ruang gerak bermainnyan karena untuk peserta didik di taman kanak-kanak memang sedang waktunya mereka semua mengeksplor dunia sekitarnya dengan bebas tapi tetap dalam pengawasan orangtua dan guru.